Pemetaan LPI Skala Besar untuk Mendukung Pembangunan Poros Maritim di Indonesia

Cibinong, Berita Geospasial BIG - Sesuai dengan program pemerintahan saat ini untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, BIG mempunyai peran yang sangat strategis.  Peran tersebut adalah dalam penyelenggaraan informasi geospasial dasar wilayah laut dan lingkungan pantai di Indonesia. Informasi geospasial dasar tersebut adalah Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dan Lingkungan Laut Nasional (LLN).  Untuk itu perlu dilakukan pemetaan LPI skala besar guna mendukung pembangunan tol laut nasional dalam mendukung poros maritim dunia.


Hal tersebut ditindaklanjuti BIG bersama dengan K/L lainnya dalam mewujudkan cita-cita di atas.  Kegiatan di atas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU-IG), yang menyebutkan bahwa penyediaan Peta LPI dilakukan hingga skala 1:1.000. Menindaklanjuti amanat UU-IG ini maka BIG pada tahun 2015 ini menyelenggarakan tahapan pertama untuk membuat Peta LPI Skala 1:10.000.  Untuk memperlancar kegiatan tersebut, maka pada Jumat 10 Juli 2015, kembali dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan bertempat di Kantor Badan Informasi Geospasial (BIG), Cibinong, Bogor. FGD tersebut dilaksanakan dalam rangka Pra Workshop Hasil Kajian Metode Akuisisi Data Hidrografi untuk Mendukung Pemetaan LPI Skala 1:10.000. Turut hadir pada FGD adalah Sekretaris Utama BIG Titiek Suparwati; dan para narasumber dari Dinas Hidro-oseanografi TNI AL (Dishidros) Trismadi dan Gunawan S. Prabowo; dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Gunawan S. Prabowo; dan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Imam Mudita; serta perwakilan dari pusat teknis BIG.


Titiek menjelaskan bahwa karena belum adanya pemetaan skala besar, maka perlu dilakukan kajian untuk kebutuhan teknis. “Agar para peneliti dapat memberikan manfaat ilmu yang dimiliki kepada para pelaksana teknis”, jelasnya. Dishidros sendiri diketahui sudah pernah melakukan pemetaan skala besar hingga skala 1:1.000, sehingga perlu menjadi narasumber agar dapat memberikan masukan untuk pemetaan LPI skala besar yang akan dilakukan oleh BIG. Selanjutnya, Kepala Bidang Pemetaan Lingkungan Pantai BIG, Dwi Sigit Purnomo memaparkan bahwa pekerjaan survei dan pemetaan LPI skala 1:10.000 ini bertujuan sebagai prototipe untuk pembuatan Kerangka Acuan Kerja (KAK) pada pekerjaan pemetaan LPI skala besar berikutnya. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menghasilkan output Peta LPI skala 1:10.000 sekaligus menjadi kajian untuk peningkatan kualitas KAK Peta LPI skala 1:10.000. 


Hasil FGD ini didapatkan beberapa kesimpulan, antara lain bahwa kegiatan survei hidrografi untuk pembuatan LPI skala 1:10.000 yang dilakukan BIG sudah memenuhi ketentuan teknis sebagaimana diatur dalam IHO 2008; tidak ada keharusan penggunaan MBES untuk survei tersebut meskipun jika menggunakan akan dapat diperoleh data batimetri yang lebih rapat dan liputan dasar laut; pengamatan sampel dasar laut yang dilakukan oleh Pusat PKLP bersamaan dengan survei batimetri memerlukan sinergi dengan Pusat PPIT sebagai upaya untuk penyediaan layer tutupan dasar laut (sea bed cover) yang merupakan salah satu dari 8 layer peta dasar; pemotretan garis pantai dengan LSU 01 dan 02 untuk pemetaan LPI skala 1:10.000 siap dilaksanakan bekerjasama dengan LAPAN; penggunaan CORS untuk pengukuran posisi titik kontrol dan GCP untuk pemotretan UAV dinilai efisien dan efektif; dan pembuatan BM pada pekerjaan survei hidrografi disarankan agar dilakukan dalam waktu 8 jam atau lebih sehingga datanya dapat digunakan untuk perapatan titik kontrol geodesi.


Dengan didapatkannya beberapa kesimpulan tersebut, FGD pun diakhiri dan di pertemuan berikutnya akan dilanjutkan dengan tema yang berbeda pula. Sehingga nantinya KAK yang dihasilkan untuk pemetaan skala besar LPI dapat disusun dengan baik. FGD ini juga penting dilakukan selain itu meningkatkan koordinasi antar lembaga, juga menjadi ruang untuk saling belajar dan berbagi ilmu antar para ahli di bidangnya. Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut untuk kesempatan berikutnya dalam rangka menghasilkan DG dan IG yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. (LR/TR-SP)